informasiobat.com

TIAMFENIKOL

NAMA GENERIK
Tiamfenikol

NAMA KIMIA
D-treo-(-)-2,2-Dikloro-N-[ß-hidroksi-alfa-(hidroksimetil)-p-nitrofenetil]asetamida[56-75-7].

STRUKTUR KIMIA
C11H12Cl2N2O5

SIFAT FISIKOKIMIA
Kloramfenikol mengandung tidak kurang dari 97,0% dan tidak lebih dari 103,0% C11H12Cl2N2O5;Pemeriaan: hablur halus berbentuk jarum atau lempeng memanjang; putih hingga putih kelabu atau putih kekuningan.;Kelarutan: sukar larut dalam air; mudah larut dalam etanol, dalam propilen glikol, dalam aseton dan dalam etil asetat.

SUB KELAS TERAPI
Anti Infeksi

FARMAKOLOGI
Distribusi: keseluruh jaringan dan cairan tubuh; dapat menembus placenta; masuk dalam ASI; dalam cairan serebrospinal : normal meningitis 66%, meningitis inflamasi >66%.;Ikatan protein: 60%;Metabolisme: utamanya melalui hati (90%) menjadi metabolit tidak aktif dengan melalui mekanisme glukoronidasi, kloramphenikol sodium suksinat dihidrolisa dengan mekanisme esterisasi sehingga menjadi bentuk aktif.;T½ eliminasi: fungsi ginjal normal: 1.6-3.3 jam; End-stage Gangguan ginjal :3-7 jam; Sirosis:10-12 jam.;Eksresi: urin (5-15%).

STABILITAS PENYIMPANAN
Simpan obat pada suhu kamar; hasil pencampuran obat dapat bertahan selama 30 hari; gunakan hanya jika cairan masih jernih; cairan obat yang dibekukan kemungkinan akan dapat bertahan selama 6 bulan.

KONTRA INDIKASI
Hipersensitif terhadap kloramfenikol atau terhadap komponen lain dalam obat.

EFEK SAMPING
Tiga efek samping terbesar yang diakibatkan oleh kloramfenikol antara lain :;1. Anemia aplastik; sebuah reaksi idiosikratik yang dapat terjadi dari manapun rute pemberian obat; biasanya terjadi 3 minggu sampai 12 bulan setelah pemberian obat.;2. Bone marrow suppresión, ini terjadi jika kadar serum darah >25 mcg/mL dan bersifat reversible ketika kloramfenikol dihentikan. Anemia dan neutropenia kemungkinan akan terjadi pada minggu pertama penggunaan obat.;3. Gray síndrome ini ditandai dengan collapse, sianosis, asidosis, depresi myokardial, koma dan kematian. Ini dapat terjadi jika kadar konsentrasi darah > 50 mcg/mL; ;kemungkinan diakibatkan oleh akumulasi obat dalam darah akibat adanya kerusakan pada hati dan ginjal pasien.;Efek samping lainya :;SSP : Bingung, mata gelap (delirium), depresi, fever, sakit kepala.;Dermatologi : Angioderma, ruam, urtikaria.;Gastrointestinal : diare, enterokolitis, glossitis, mual, stomatitis, muntah.;Ocular : optic neuritis.;Lain-lain : Anaphilaksis, reaksi hipersensitifitas.

INTERAKSI MAKANAN
Kemungkinan akan menurunkan absorbsi obat pada intestinal

INTERAKSI OBAT
Sitokrom P450: menghambat CYP2C8/9 (penggunaan mingguan), 3A4 (penggunaan mingguan).;Meningkatkan efek toksis: kloramfenikol meningkatkan efek dari klopropramid, fenitoin, dan antikoagulan oral.;Menurunkan efek: fenobarbital dan rifampisin kemungkinan menurunkan efeknya.

PENGARUH ANAK
Dapat menyebabkan gray baby síndrome. AAP tidak merokomendasikan

PENGARUH HASIL LAB
Pada penggunaan lebih dari 2 minggu Dapat mempengaruhi hasil pemeriksaan laboratorium : CBC, liver dan ginjal.

PENGARUH KEHAMILAN
Faktor risiko : C ;Dalam penelitian sampel hewan uji terdapat embriotoksik dan teratogenik, tapi ini belum cukup terbukti dalam penelitian selanjutnya.

PENGARUH MENYUSUI
Dapat di ekresikan kedalam air susu ibu, AAP tidak merekomendasikan.

PARAMETER MONITORING
CBC (Hb, Trombosis);Liver (SGPT, SGOT);Renal (BUN, ClCr)

BENTUK SEDIAAN
Injeksi, Kapsul, Serbuk Suspensi Oral

PERINGATAN
Hati – hati jika digunakan pada pasien yang tenderita gangguan hepar dan gagal ginjal.;Kurangi dosis jika digunakan pada pasien penyakit hati.;Hati – hati jika digunakan pada pasien defisiensi glucosa 6-phosfat dehidrogenase.;Kejadian serius hingga fatal berupa dyscrasias akibat penggunaan jangka pendek maupun panjang termasuk juga melalui penggunaan topikal.;Penggunaan jangka panjang dapat mengakibatkan suprainfeksi.;Penggunaan pada bayi dapat mengakibatkan gray baby síndrome yang dapat berakibat fatal.

INFORMASI PASIEN
Untuk menghindari timbulnya resistensi, maka sebaiknya kloramfenikol digunakan dalam dosis dan rentang waktu yang telah ditetapkan.;Obat digunakan dalam keadaan perut kosong (1 jam sebelum makan atau 2 jam setelah makan).;Amati jika ada timbul gejala ESO obat, seperti mual, diare atau respon hipersensitivitas.;Jika masih belum memahami tentang penggunaan obat, harap menghubungi apoteker.;Jika keadaan klinis belum ada perubahan setelah menggunakan obat, maka harap menghubungi dokter.

MEKANISME AKSI
Secara reversibel berikatan dengan 50S subunit ribosom pada organisme yang sensitif untuk menghambat terjadinya mekanisme transfer asam amino yang dibutuhkan untuk pembentukan rantai peptida, sehingga hal ini akan menghambat sintesis protein sel bakteri.

MONITORING
Lamanya penggunaan obat.;Memonitor kepatuhan pasien dalam menggunakan obat.;Menilai kondisi pasien sejak awal hingga akhir penggunaan obat.;Evaluasi jika timbul tanda munculnya ESO obat.

{BOTTOM}