informasiobat.com

ASETIL SISTEIN

NAMA GENERIK
Asetil Sistein

NAMA KIMIA
N-acetyl-L-cysteine. (3)

STRUKTUR KIMIA
C5H9NO3S

SIFAT FISIKOKIMIA
Serbuk kristal warna putih, bau agak asam. (3,5);Mudah larut dalam air (1 : 5), alkohol (1 : 4), praktis tidak larut dalam kloroform, eter. (3);pH larutan 1% dalam air = 2.0-2.8. (3)

SUB KELAS TERAPI
Obat Untuk Saluran Napas

FARMAKOLOGI
Cepat diabsorpsi dari saluran cerna dan konsentrasi plasma maksimum dicapai dalam 0.5-1 jam setelah dosis oral 200-600 mg.Bioavailabilitas oral rendah (4-10%), tergantung apakah yang diukur adalah total asetilsistein atau bentuk reduksinya. ;Bioavailabilitas oral yang rendah disebabkan oleh metabolisme dalam dinding usus dan first-pass metabolisme di hati. (3);Renal clearance sekitar 30% dari total body clearance. (3);Waktu paruh (oral) : 6.25 jam. (3)

STABILITAS PENYIMPANAN
Disimpan dalam wadah tertutup rapat, terlindung dari cahaya. (3);Asetil sistein merupakan bahan pereduksi sehingga tidak tercampurkan dengan bahan pengoksidasi. Perubahan warna larutan menjadi ungu muda tidak menunjukkan adanya penurunan efikasi atau keamanan. (3,5)

KONTRA INDIKASI
Hipersensitif terhadap asetil sistein atau komponen lain dalam formula. (4);Gangguan hati. (2)

EFEK SAMPING
Reaksi hipersensitivitas (bronkospasme, angioedema, kemerahan, gatal), hipotensi / hipertensi (kadang-kadang), mual, muntah, demam, syncope, berkeringat, arthralgia, pandangan kabur, gangguan fungsi hati, asidosis, kejang, ;cardiac / respiratory arrest. (3)

INTERAKSI OBAT
Karbamasepin1 : subterapetik level dari Karbamasepin;Nitrogliserin1 : meningkatkan efek hipotensi dan efek sakit kepala dari nitrogliserin. ;Pihak produsen menyatakan bahwa larutan sodium asetil sistein secara fisik dan kimia tidak tercampurkan dengan larutan yang mengandung amphotericin B, tetracyclines, erythromycin lactobionate atau ampicillin sodium.;Jika anti-infeksi tersebut digunakan secara inhalasi, maka sebaiknya dinebulasi secara terpisah. (5);Larutan asetil sistein juga tidak tercampurkan secara fisik dengan iodized oil, trypsin, chymotrypsin dan hydrogen peroxide. (5)

PENGARUH KEHAMILAN
Kategori B. (1,4);Asetil sistein dilaporkan menembus plasenta pada manusia setelah pemberian oral atau IV. Tetapi belum ada studi kontrol yang cukup tentang penggunaan pada ibu hamil. ;Asetil sistein digunakan selama kehamilan jika memang benar-benar dibutuhkan. (5)

PENGARUH MENYUSUI
Belum diketahui mengenai distribusinya ke dalam ASI, tetapi diperlukan perhatian untuk penggunaan pada ibu menyusui. (5)

PARAMETER MONITORING
Fungsi hati / ginjal, keseimbangan cairan tubuh dan elektrolit. (1)

BENTUK SEDIAAN
Kaplet 200 mg, Tablet Effervescent 600 mg,;Sachet 200 mg, Pediatric sachet, Dry syrup, Ampul 300 mg/3 ml. (2)

PERINGATAN
Pasien asthmatic. (2,3);Pasien dengan riwayat ulkus peptik karena asetil sistein menyebabkan mual dan muntah sehingga meningkatkan risiko gastrointestinal haemorrhage; mukolitik mengganggu gastric mucosal barrier. (3 )

MEKANISME AKSI
Mengurangi kekentalan / viskositas sekret dengan memecah ikatan disulfida pada mukoprotein, memfasilitasi pengeluaran sekret melalui batuk. Mekanisme ini paling baik pada pH 7-9, sehingga pH sediaan diadjust dengan NaOH. (3,5)

MONITORING
Pasien asma yang mendapatkan inhalasi asetil sistein harus dipantau secara ketat selama terapi. Jika terjadi bronkospasme, sebaiknya diberikan bronkodilator secara nebulasi. ;Jika bronkospasme masih terus terjadi, penggunaan asetil sistein sebaiknya segera dihentikan.5;Peningkatan volume sekret cair bronkial akan bertambah setelah penggunaan asetil sistein dan kemungkinan akan menutupi saluran nafas. Jika batuk tidak cukup untuk membuka saluran nafas, ;maka perlu dilakukan mechanical suction atau endotracheal aspiration. (5)

{BOTTOM}